Selasa, 05 November 2013

7 Unsur kebudayaan Kampung Benda, Cirebon Jawa Barat

Ninin Ramadani
Mahasiswi Pendidikan Sosiologi UPI 2012
7 Unsur kebudayaan KAMPUNG BENDA,
Cirebon Jawa Barat
Kampung Benda yang masyarakatnya sangat gigih mempertahankan tradisi leluhur, terutama tradisi keislaman. Kampung ini secara geografis termasuk wilayah Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon. Jarak dari pusat Kota Cirebon lebih kurang hanya 8 kilometer. Secara geografis, terletak pada posisi 10833 Bujur Timur dan 61 Lintang Selatan. Bentang alamnya merupakan dataran tinggi daerah cirebon dengan luas tanah 33 hektar. Kecamatan Harjamukti. Kemiringan 15-25% tersebar di wilayah Kelurahan Argasurya, kecamatan Harjamukti.
Pada tahun 1980-an Kampung Benda belum dialiri listrik. Ketika pemerintah menawarkan aliran listrik, masyarakat menolaknya. Namun, dengan berbagai dalih dan bujukan, akhirnya pemerintah mampu “memaksa” Benda Kerep untuk menerima listrik. Dengan masuknya listrik, tentu perubahan diharapkan sangat cepat dan masyarakat akan tertarik untuk membeli televisi dan lain-lain. Akan tetapi, dugaan tersebut belum sepenuhnya terpenuhi.
Masyarakat Benda masih mencoba bertahan untuk mengikuti jejak leluhur mempertahankan kebiasaan-kebiasaan mereka. Bahkan ada sebagian tokoh masyarakat yang hingga kini masih bertahan untuk tidak menggunakan listrik.
Untuk memasuki wilayah Benda kita harus melalui sungai terlebih dahulu. Bila sungai sedang penuh dengan air atau malah banjir, kita tidak dapat memasuki kawasan tersebut. Uniknya, masyarakat sekitar Benda Kerep selalu siap menampung masyarakat Benda Kerep yang menginap bila sungai tersebut tiba-tiba banjir.
Belakangan ini, sejak tahun 2000-an, Pemerintah Kota Cirebon membujuk masyarakat untuk menerima pembuatan jembatan agar akses masuk ke Benda Kerep mudah. Namun, masyarakat Benda Kerep masih menolaknya. Mungkin pertimbangannya, bila akses transportasi mudah, perubahan akan segera terjadi dan modernisasi terjadi di mana-mana. Jadi kampung yang tradisional.
Tawaran ini tentu saja membuktikan betapa pemerintah tampak belum positif melihat spesifikasi kampung tersebut. Padahal, bila pemerintah mau mengubah paradigmanya dalam memandang Benda Kerep dari masyarakat tertinggal menjadi masyarakat yang unik, kampung itu justru menjadi potensi wisata yang unik. Tidak setiap daerah memiliki wilayah seperti itu. Ini justru menjadi potensi bagi Kota Cirebon untuk mengembangkan Benda Kerep menjadi kampung tradisional.
Bila hal itu terjadi, Benda Kerep akan menjadi perkampungan yang bersahaja, alamiah, dan penuh keramahan tradisional di tengah perkembangan ingar-bingar Kota Cirebon. Benda Kerep akan menjadi penyejuk di tengah keresahan gejolak masyarakat Kota Cirebon. Bahkan bisa saja kampung itu menjadi penyejuk hati bagi orang yang merindukan suasana alamiah.
Selain itu, penolakan masyarakat Benda Kerep terhadap program jembatan yang digulirkan pemerintah bisa jadi karena masyarakat Benda Kerep melihat Pemerintah Kota Cirebon masih memandang negatif kekhasan Benda Kerep. Bila pemerintah telah mengubah paradigmanya dan mampu meyakinkan masyarakat Benda Kerep bahwa jembatan itu tidak akan mengubah sama sekali kekhasan masyarakat Benda Kerep, saya kira masyarakat Benda Kerep akan mempertimbangkannya.
Jembatan yang dimaksud hanya merupakan perlintasan bagi warga masyarakat Benda Kerep agar lebih mudah bila hendak berhubungan dengan dunia luar, bukan jembatan yang memungkinkan dilalui sepada motor atau mobil. Namun, meyakinkan masyarakat Benda Kerep agar menerima program jembatan memang tidak mudah. Kekecewaan masyarakat terhadap program listrik masuk desa masih sering menjadi bahan perbincangan
Sejarah, awal keberadaan berdirinya kampung benda sekitar tahun 1830-an tokoh pendirinya adalah Kiyai Soleh. Kampung Benda ini termasuk tanah keraton kanoman. Awal mula dinamai Kampung Benda ini adalah Cimeuweuh karena berasal dari kata ci itu air dan meuweuh/ euweuh yang artinya hilang. Barang siapa orang yang datang ke desa ini pasti akan hilang tetapi menurut keyakinan masyarakat sekitar kemungkinan besar orang yang masuk kewilayah tersebut dibawa ke alam ghaib oleh sekelompok mahkluk ghaib penghuni wilayah Cimeuweuh.. Sehingga konon Sultan keraton mengadakan sayembara, barang siapa yang bisa menduduki daerah ini maka dia akan mamiliki atau menguasai kampung ini.
Sebelum Kiyai Soleh masuk ke kampung ini sebelumnya ada orang lain yang ingin memasuki kampung ini namun tidak bisa masuk. Sampailah kiyai Soleh dengan tugas dari Mbah Kriyan untuk ke suatu tempat untuk menyepi/ menyumbut, dan dengan karunia Allah Kiyai Soleh bisa menaklukan tempat ini.
Setelah Kiyai Soleh menetap dan tinggal di kampung ini jadilah Kampung ini berubah nama yang awalnya kampung Cimeuweuh berubah menjadi Kampung Benda karena di dalam kampung ini banyak terdapat pepohonan yang dinamakan Pohon Benda.
Kemudian, setelah sekian lama Kiyai Soleh berada dan tinggal di kampung ini banyak kejadian diluar akal contohnya seperti saat pohon-pohon besar yang di tebang ini banyak terdengar suara orang yang sedang menjerit dan saat pohon di tebang bukan getah yang keluar melainkan darah. Selain itu masih ada kejadian aneh yaitu adanya ular dan macan siluman. Menurut narasumber yang saya wawancarai Ular dan  Macan ini masih ada di kampung benda ini.
Konon, saat zaman dulu sudah ada perjanjian antar masyarakat kampung ini dengan siluman, yang tersisa adalah ular dan macan. Isi perjanjian dengan siluman itu adalah “ular dan macam jangan diusir, kalau tidak diusir maka saya akan melindungi tempat ini.” Dulu saat masih zaman penjajahan saat Belanda ingin masuk ke kampung ini tidak bisa masuk karena yang dilihatnya adalah bukan perkampungan tatepi seperti lautan dan saat kampung lain terkena serangan bom tapi kampung ini tidak terkena bnom tersebut.
Kesenian dan Kebudayaan Kampung Benda ini sangat dikenal dengan keagamaannya dan religinya, karena banyak sekali pondok-pondok pesantren disini. Pakaian yang harus dikenakan juga harus sesuai dengan aturan yaitu dengan memakai pakaian islami. Pakaian untuk pria itu seperti kopeah dan sarung sedangkan pakaian untuk perempuan disini adalah wajib memakai rok baju panjang dan wajib memakai kerudung. Di Kampung Benda ini tidak diperbolehkan memakai celana panjang karena dikatakan sebagai para penjajah Belanda.
Kesenian di kampung ini alat musiknya seperti rebana dan gembyung dan seni beladirinya adalah silat/ beladiri Arab yang diberi nama Detik. Alat Musik Rebana dan gembyung ini dimainkan saat ada acara hari raya Idul Adha (raya agung), acara muludan dan acara nikahan ataupun khitanan isinya berupa shalawat. Selain kesenian ada yang unik dengan sistem perikahannya, pernikahannya ini antar saudara  atau sepupu. Pernikahan ini mempunyai dampak positif dan negatifnya. Dampak positifnya adalah menyebabkan adat istiadat jadi kuat karena sedarah, dampak negatifnya adalah jadi tidak berkembang. Bila nikah dengan 1 keturunan maka tidak akan mengentahui budaya-budaya yang lainnya.
Bahasa yang digunakan oleh masyarakat kampung benda ini ada 2 macam bahasa yaitu Bahasi Cirebon (kromo inggil) dan Bahasa Sunda. Kebanyakan yang saya dengar dengan percakapannya memakai  bahasa sunda tetapi tetap ada yang memakai bahasa cirebon (kromo inggil).
Sistem Teknologi di kampung benda, adanya tandu. Tandu ini digunakan untuk orang yang sakit, menurut narasumber yang saya wawancarai tandu ini pada zaman dulu digunakan oleh kiyai yang sedang sakit dan yang menggotongnya itu adalah para santri. Tandu ini saat ini masih digunakan dan masih disimpan dan tandu yang masih dipakai sekarang tandu buatan baru. Yang kedua adanya perkakas kuno seperti keris dll. Teknologi lainnya adalah masyarakat kampung benda ini sudah menerima listrik dan sudah ada yang menggunakan motor dan alat komunikasi seperti handphone, walaupun sudah ada listrik mereka menolak adanya televisi dan radio. Secara garis besar alasan logis mereka menolak adanya tv dan radio karena ingin menghambat berbagai kemungkinan-kemungkinan pengaruh negatif dari adanya tv dan radio karena pada realisasinya peran dunia teknologi dari televisi dan radio akan senantiasa mempengaruhi budaya lokal yang memang selalu membawa pengaruh negatif dari penayangannya, apabila dikaji lebih dalam adanya tv dan radio akan membawa arus progsesifitas dan mobilitas tinggi bagi perkembangan masyarakat karena pendekatan educative juga dilakukan oleh produksi tv dan radio namun disamping itu budaya luar juga akan mudah diterima oleh masyarakat yang menggunakan tv dan radio sehingga tercipta sebuah sinkrenisasi budaya karena pada eksistensinya tayangan dari tv dan siaran radio selalu memberikan warna budaya-budaya luar entah itu budaya konstruktif ataupun negatif, alasan masyarakat benda memang logis kiranya, mereka tidak mengahrapkan budaya mereka terpengarahi oleh budaya luar apalagi menjadi asimilasi budaya dan hilang pula budaya yang mereka agungkan. Selain adanya kehawatiran budaya mereka hilang, ada hal yang lebih urgen lagi dimasyarakat benda yakni kelekatan nilai-nilai dan sendi-sendi ajaran islam yaitu ajaran sufistik yang diajarkan oleh kiyai soleh secara turun temurun yang memang itu adalah barometer bagi masyarakat benda kerep sendiri, selamat atau tidaknya sebuah elemen masyarakat atau satu individu dari pandangan masyarakat benda kerep adalah dilihat dari bagaimana mereka mengaplilkasikan nilai-nilai islam itu sendiri apa bila mereka lupa terhadap syari’at yang diamanatkan oleh rasulullah maka sudah pasti kiranya mereka terjebak dalam sangkar kesesatan dan kelemahan, dan itu diakui oleh masyarakat muslim sedunia namun pertanyaanya apakah mereka mampu melakukan tindakan filterirasi atau tidak, tindakan yang dilakukan oleh masyarakat benda adalah sebuah tindakan riil yang patut ditauladani sekalipun banyak pendapat miris yang mengatakan masyarakat benda adalah masyarakat yang terisolasi atau terbelakang tapi itu tidak dijadikan sebuah alasan yang tepat untuk tetap berpegang teguh pada keyakinan mereka. Lebih baik terisolasi namun kaya iman dari pada hidup modern namun miskin spiritual itulah mungkin argumentatif yang tepat bagi masyarakat benda kerep sebagai bentuk apresisiasi terhadap budaya setempat dan nilai-nulai syariat islam.
Sistem Religi di kampung benda, Religi di kampung benda ini menganut agama islam. terdapat banyak pondok pesantren. Santrinya dari berbagai macam daerah, ada yang dari benda dalamnya ataupun dari benda luar ada juga yang dari sekitar Cirebon dan ada dari daerah lain seperti Kuningan dan Karawang. Tidak ada aturan tertulis tetapi mengikuti peraturan disini, mengikuti adat istiadat disini dengan disesuaikan dengan aturan agama. Sanksi untuk para santri bila ada interaksi dengan lawan jenis itu akan di hukum. Jadi santri perempuan dan laki-laki dipisahkan, tidak menyatu dan tidak ada interaksi.
Sistem Pengetahuan, masyarakat benda ini tidak berpolitik. Adanya beladiri Arab. Terdapat banyak pondok pesantren disini tetapi pondok pesantren ini tidak diberi nama atau tidak ada namanya. Sistem pengetahuan di pondok pesantren ini wujudnya tidak formal.
Mata Pencaharian, sebagian besar pertanian dan pedagang. Karena di dalam kampung benda ini di kanan kiri jalan terdapat pepohonan dan masih dibilang seperti daerah hutan. Masih banyak orang-orang yang mengangon kambing, yang biasa mengangon kambing ini kebanyakan para santri di kampung benda ini.
Organisasi Sosial, di kampung benda ini tidak ada organisasi sosial. Tidak seperti di desa-desa lainnya jika di desa lainnya terdapat ketua rt/rw dll tetapi di kampung benda ini tidak ada. Masyarakatnya tidak berpolitik, walaupun tidak berpolitik tetap saja masyarakat benda ini tidak menentang pemerintah dan tetap melaksanakannya. Seperti adanya pemilihan walikota, gubernur dsb mereka tetap melaksanakan. Mereka berpendapat bahwa “cinta negara itu minal iman, tidak boleh keluar dari aturan agama”. Dan juga walaupun tidak ada organisasi sosial setiap santri semuanya harus mengikuti peraturan dan masyarakat juga harus menghikuti adat istiadat di Kampung Benda ini.


Biodata Narasumber

Nama                                       : Muhammad Nuh
Tempat tanggal lahir      : Cirebon, januari 1969
Alamat                           : Desa Argasunya Kecamatan Harjamukti, Kota
                                        Cirebon
Pendidikan                     : Tidak Formal
Pekerjaan                       : Pengajar di Pesantren
Gelar                              : Kiyai/ Tokoh Masyarakat Kampung Benda
Agama                           : Islam


Dokumentasi